Apabila manusia ingin tetap survive di bumi ini, maka wajib menyeimbangkan ekosistem agar tetap mampu menyangga dan menjadi tempat proses kehidupan manusia seutuhnya.
Tulisan reflektif ini mendeskripsikan keadaan bumi sekarang yang nota bene terhadap cuaca buruk terjadi dimana-mana, yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu untuk menjamin setiap ‘perubahan atau siklus’ yang ada di bumi. Sedikit mengulas kembali tentang memaknai Biosfer. Ada 3 (tiga) komponen penting, yakni :
1. Hidrosfer, semua perairan yang ada di permukaan bumi
2. Litosfer, batuan dan tanah untuk mensupply berbagai jenis mineral yang ada di permukaan bumi
3. Atmosfer atau lapisan udara, sumber oksigen, nitrogen dan karbon yang menyelimuti hidrosfer dan litosfer.
Secara langsung maupun tak langsung, kenyataannya juga hampir semua komponen biosfer tersebut dipengaruhi oleh 'teknologi manusia' yang menganggu keseimbangan ekosistem sehingga mengakibatkan krisis ekologis. Salah satu gejala krisis ekologis dewasa ini telah ditandai dengan naiknya suhu panas bumi yang dapat dirasakan perbedaannya dalam sehari-hari, lazim dikenal dengan “pemanasan global” (Global Warming). Secara empiris, Global Warming disebabkan oleh maraknya aktifitas illegal logging, konversi areal-areal hutan menjadi areal perkebunan sehingga khususnya peranan hutan sebagai suatu ekosistem tidak berfungsi sebagai subsistem penyeimbang iklim peningkatan karbondioksida di atmosfer. Jelas, eksistensi biosfer sebagai tempat proses kehidupan manusia di masa mendatang telah terancam krisis ekologis dalam wujud perusakan lingkungan, pencemaran lingkungan dan pemanasan global... Mari kita pikirkan kembali,,,,
"Ketika manusia sadar bahwa uang tak dapat dimakan, maka manusia itu..........*